Waspada ‘Bubble’, Bitcoin Rontok 20% dalam Hitungan Hari

Setelah maraton mendaki, nilai mata uang digital Bitcoin akhirnya terperosok hampir 20 persen dari puncak ke level terendah dalam sepekan.

Nilai bitcoin merosot lebih dari 10 persen pada Rabu (19/12) ke level terendah dalam sepekan menjadi US$15.800 di Cryptocurrency Exchange Bitstamp. Bitcoin kehilangan hampir seperlima nilainya dari level puncak tiga hari lalu.

Mata uang digital itu telah meluncur sejak pencapaian rekor tertingginya US$19.666 pada Minggu (17/12), ketika bursa raksasa CME Group (CME.O) meluncurkan bitcoin berjangka. Sepekan sebelumnya, saingan terbesar yakni Cboe Global Market (CBOE.O) mencatatkan bitcoin pertama di pasar berjangka.

“Daftar dua produk berjangka bitcoin itu membuat pemain institusi lebih mudah untuk menukar bitcoin. Lembaga berjangka juga memungkinkan pemain untuk menjual bitcoin karena biasanya sulit tanpa produk berjangka yang liquid,” ujar Makoto Sakuma, Analis NLI Research Institute di Tokyo seperti dikutip dari Reuters, Rabu (20/12).

Nilai tukar bitcoin telah melewati level keuntungan yang monumental tahun ini karena telah melonjak hingga 19 kali. Namun hal itu dinilai para pelaku kebijakan, khususnya di kawasan Asia, sebagai fenomena yang perlu diwaspadai.

Bank Sentral Singapura misalnya, menerbitkan peringatan terhadap investasi di platform uang virtual (cryptocurrencies). Mereka menganggap lonjakan harga yang terjadi belakangan ini hanya didorong spekulasi, dan memiliki risiko penurunan harga yang tajam.

Badan Pengawasan Keuangan Korea Selatan menilai bahwa pihaknya tak mempertimbangkan adanya bitcoin dan cruptocurrencies menjadi mata uang dalam bentuk apapun.

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Jepang Taro Aso mengatakan, bitcoin belum terbukti menjadi mata uang yang kredibel.

di Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengimbau masyarakat tidak berspekulasi terlalu tinggi untuk berinvestasi di uang virtual.

Ia tidak mengharapkan terjadinya gelembung ekonomi atau gelembung spekulatif di masyarakat terkait mata uang digital ini.

“Salah satu bentuk investasi, namun kita tidak berharap terjadinya suatu spekulasi atau bubble yang bisa menimbulkan kerugian,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, cryptocurrency seperti Bitcoin sampai saat ini belum menjadi alat pembayaran atau investasi yang sah di Indonesia. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) juga telah mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran.

Pada November 2017, bitcoin anjlok hampir 30 persen dalam empat hari dari US$7.888 menjadi US$5.555. Pada September, bitcoin juga melorot 40 persen dari US$4.979 menjadi US$2.972.

Banyak profesional keuangan mengatakan, mata uang yang telah memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$275 miliar itu merupakan aset yang bersifat bubble, mengingat jumlah transaksi asetnya sangat kecil.

Pasar dinilai sangat tidak efisien dengan perdagangan berjangka bitcoin yang lebih tinggi dibandingkan aset di pasar tunai. Sementara itu, kesenjangan harga antara bursa berjangka lain juga sangat besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *