PBB Jatuhkan Sanksi, Hacker Korea Utara Bidik Bitcoin

Korea Utara dikabarkan meningkatkan upaya untuk mengamankan bitcoin dan mata uang digital (cryptocurrency) lainnya, yang dapat digunakan untuk menghindari pembatasan perdagangan, termasuk sanksi baru yang disetujui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).

Laporan perusahaan riset keamanan, FireEye Inc., menunjukkan bahwa peretas (hacker) Korut meningkatkan serangan mereka terhadap bursa-bursa penukaran cryptocurrencydi Korea Selatan dan situs-situs terkait.

Mereka juga menerobos situs berita bitcoin berbahasa Inggris serta mengumpulkan pembayaran tebusan bitcoin dari korban-korban malware WannaCry di seluruh dunia. Minat rezim Kim Jong Un terhadap cryptocurrency muncul di tengah naiknya harga dan popularitas mata uang digital.

Faktor sama yang telah mendorong popularitasnya, yakni kurangnya kontrol dan kerahasiaan negara, dapat menjadikannya berguna sebagai alat pengumpulan dana dan pencucian uang bagi pemimpin Korut tersebut.

Sejumlah pakar keamanan pun mengatakan bahwa berlakunya sanksi baru yang lebih ketat terhadap Korut serta meluasnya penggunaan cryptocurrency hanya akan meningkatkan minat Korea Utara terhadap mata uang digital.

“Kami melihat sanksi tersebut sebagai pemicu besar yang mendorong aktivitas semacam ini. Mereka (Korut) mungkin melihatnya sebagai solusi berbiaya rendah untuk menghasilkan uang tunai,” kata Luke McNamara, seorang peneliti di FireEye dalam laporannya, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (12/9/2017).

Pada Senin (11/9) waktu setempat, DK PBB yang beranggotakan 15 negara menyetujui sanksi baru yang ditujukan untuk menghukum Korea Utara menyusul uji coba rudal dan nuklir terbarunya.

Sejumlah pejabat AS mengatakan sanksi tersebut akan mencakup pengurangan ekspor tekstil Korut sebesar 90%. Hal ini dikatakan dapat membatasi kemampuan negara beribukota Pyongyang tersebut untuk mendapatkan hard currency.

Sepanjang tahun ini, FireEye telah mengkonfirmasikan serangan terhadap setidaknya tiga bursa penukaran di Korea Selatan, termasuk pada bulan Mei yang berhasil dilancarkan.

Pada saat yang sama, media lokal melaporkan bahwa bursa Yapizon yang berbasis di Seoul kehilangan lebih dari 3.800 bitcoin (sekitar US$15 juta dalam nilai berlaku saat ini) akibat pencurian. Meski demikian, tidak ada indikasi yang jelas mengenai keterlibatan Korea Utara.

Kementerian telekomunikasi Korea Utara sendiri tidak menanggapi pertanyaan terkait hal ini. Sementara itu, diplomat dan media resmi negara tersebut telah membantah keterlibatan dalam serangan siber, termasuk peretasan Sony Pictures Entertainment pada tahun 2014.

Pihak Korea Selatan meyakini bahwa Korut menjalankan sekumpulan peretas yang memperluas fokusnya dari spionase militer ke pencurian finansial.

Laporan Pusat Kebijakan Siber Internasional di Australian Strategic Policy Institute, memaparkan bahwa Reconnaissance General Bureau, badai umum pengintai, yang secara langsung melapor kepada Kim Jong Un, menangani operasi siber mulai dari spionase hingga gangguan jaringan serta mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan.

Dalam serangan baru-baru ini, Korea Selatan mungkin telah menjadi sasaran bukan hanya karena jaraknya yang berdekatan dengan Pyongyang maupun memiliki bahasa yang sama, namun juga karena Korsel telah menjadi salah satu pusat perdagangan tersibuk untuk mata uang digital tahun ini.

Bithumb, salah satu bursa penukaran terbesar untuk cryptocurrency yang berbasis di Seoul, dilaporkan mengalami pencurian data pelanggannya pada bulan Juni oleh aksi peretas.

Selain bursa penukaran, FireEye mengungkapkan bahwa situs berbahasa Inggris untuk berita bitcoin ditembus oleh pihak Korea Utara. Aksi ini dapat memungkinkan peretas mengidentifikasi orang-orang yang mengunjungi situs tersebut.

Namun begitu, FireEye menolak menjelaskan lebih lanjut informasi tentang situs tersebut dan mengatakan bahwa Korea Utara lebih menyukai target yang lebih besar seperti bursa penukaran daripada pemilik individu mata uang digital.

FireEye sebelumnya menginformasikan bahwa pihaknya telah menemukan kaitan antara Pyongyang dan serangan WannaCry pada bulan Mei dan Juni, yang mempengaruhi lebih dari 300.000 komputer di seluruh dunia. McNamara juga melihat indikasi bahwa peretas Korea Utara terlibat dalam penambangan cryptocurrency.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *