Bitcoin Bakal Dominasi Tren Keamanan Siber di 2018

Dunia teknologi tak bisa lepas dari yang namanya ancaman siber. Setelah sepanjang 2017 tren keamanan siber berkutat pada serangan malware dan ransomware, apakah ada tren baru yang akan terjadi di 2018?

Menurut Niyikiza Aimable, Technical Consultany dan Cybersecurity Engineer dari Penta Security, salah satu teknologi yang bakal mendominasi tren keamanan siber pada tahun ini adalah mata uang digital (cryptocurrency), khususnya Bitcoin.

“Bitcoin mungkin akan mendominasi. Ini bisa menjadi target empuk para penjahat siber karena kita tahu Bitcoin dan mata uang digital sifatnya sangat anonim. Ini yang harus dijadikan sorotan.”

Tak cuma Bitcoin, Aimable juga mengungkap beberapa fenomena lain kemungkinan besar akan menjadi tren keamanan siber di 2018.

Salah satunya seperti evolusi serangan ransomware dari PC ke perangkat IoT (Internet of Things) seperti smart home device.

“Dari sini, hacker bisa menebar ransomware ke perangkat IoT dan mencuri data pengguna. Lagi-lagi, data yang jadi kebutuhan utama mereka. Jika ditarik benang merahnya, semua penjahat siber pasti menginginkan data. Maka itu kita harus bangun proteksi perimeter yang kuat untuk melindungi data pribadi agar tidak mudah dibobol,” ungkap pria yang kini tinggal di Korea Selatan tersebut.

Untuk diketahui, Penta Security baru saja memasuki pasar Indonesia. Menggandeng distributor Wahana Piranti Teknologi, perusahaan berfokus pada keamanan web dan data.

Lebih lanjut, jenis produk solusi yang akan ada di pasar Indonesia lewat Wahana Piranti Teknologi mulai dari produk WAF Solution seperti WAPPLES, dengan Management System, portal, serta layanan cloud.

WAPPLES sendiri adalah produk unggulan Penta Security berbasis appliance yang bisa mengidentifikasi dan memberantas ancaman tak dikenal di level aplikasi dengan teknologi Contents Classifications and Evaluation Processing (COCEP).

Sekadar informasi, Bitcoin adalah salah satu mata uang digital paling populer. Bitcoin diciptakan pada 2009 dan sampai saat ini semakin dikenal luas.

Nilai cryptocurrency sendiri cukup fluktuatif. Bitcoin misalnya, setelah meroket ke level tertinggi di atas US$ 19.500 per koin pada Desember 2017, harganya mengalami penurunan pada awal 2018, di mana nilainya sempat berada di bawah US$ 13 ribu.

Tidak seperti uang biasa, mata uang digital ini tidak memiliki bentuk fisik dan berbeda dari transaksi reguler pada sistem perbankan. Pada perbankan normal, pemerintah biasanya mengontrol suplai uang dengan mencetak unit uang.

Namun di dalam dunia cryptocurrency, produksi mata uang digital umumnya dibatasi. Saat ini hanya ada 21 juta bitcoin di dunia, sedangkan cryptocurrency lain seperti Litecoin terdiri dari 84 juta unit.

Terlepas dari keterbatasan dan nilai yang berfluktuasi, nyatanya cryptocurrency seperti Bitcoin, semakin banyak dilirik. Namun, bukan berarti investasi cyrptocurrency tidak memiliki risiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *